Rabu, 28 Oktober 2015

Cerpen Cinta Keren


Sujudku Diambang Cinta
            Keringat bercucuran saat langkah itu kembali menapak di gerbang sekolah. Dialah Gladis seorang mahasiswa di kota Bandung. Gladis adalah perempuan berhijab yang dijuluki sebagai si cupu jika ia sedang di kampus. Dia tak biasa bergaul apalagi untuk memiliki teman. Itu sangat mustahil baginya. Gladis juga di juluki sebagai kutu buku karena kegemaran membaca yang ia miliki sejak ia berada di bangku SD hingga sekarang. Hal itu nampak karena ketebalan kacamata yang ia kenakan terus-menerus menebal. Namun dialah seorang wanita sederhana yang selalu taat pada agama.
            Saat Gladis berjalan menelusuri lorong kampus menuju letak kelasnya, ia mengalihkan pandangan saat melihat seorang pria dengan langkah kaki yang tegap dan suara sepatunya pun berderu rapi sedang berjalan menuju kepadanya. Gladis terus-menerus berucap “istighfar” karena tindakannya tak sepantasnya dilakukan. Tiba-tiba saja pria itu menanyakan dimana letak ruang dosen hukum. Gladis hanya mampu menundukan kepala, diam dan berlari meninggalkan pria itu. Hal itu dia lakukan karena memang Gladis tak terbiasa untuk berkomunikasi dengan lawan jenis. Sikapnya yang dingin itu yang membuat pria itu berkata “ dasar perempuan aneh.”
            Bel masuk telah berseru merdu. Deringnya bergema di setiap sudut kelas. Tanda kegiatan belajar mengajar segera dimulai. Semua siswa-siswi telah masuk ke kelas masing-masing. Namun tinggalah pria yang berjumpa dengan Gladis tadi yang baru saja menemukan ruang guru dan segera ia menanyakan kepada guru dimana letak kelasnya. Beruntunglah pria itu bertanya langsung kepada wali kelas di kelas barunya nanti. Sehingga dosen itu yang sering disapa dengan Ibu Mirna paham tentang pria pindahan itu. Takut terlalu lama berbincang, Bu Mirna menemani anak pindahan itu menuju kelas barunya.
            Heninglah suasana kelas fakultas hukum saat Bu Mirna datang membuka pintu kelas. Bu Mirna masuk dan mengumumkan bahwa kelas itu akan memiliki teman baru. Semua anak di kelas itu terkejut dan penasaran mendengar berita itu. Segeralah Bu Mirna memanggil anak baru di kelas itu. Saat anak baru itu memasuki kelas dan tersenyum kepada teman barunya, seolah semua membisu dan tak ada suara. Mereka terpesona pada paras pria yang bernama Erik itu, namun hanya Gladislah yang tak menanggapi itu karena sedang sibuk membaca materi pelajaran untuk hari ini. Hingga akhirnya Bu Mirna menyuruh Erik untuk duduk bersebelahan dengan Gladis. Karena memang hanya Gladislah seorang siswa yang duduk sendirian. Saat Erik duduk berdampingan dengan Gladis, Gladis pun kaget. Ia tak percaya pria yang ia temui di lorong kampus dan menanyakan ruang guru akan sampai di kelasnya dan bisa duduk bersama dalam satu meja. Hal yang tak pernah diduga sebelumnya.
            Waktu berjalan sudah cukup lama, persahabatan dimulai semenjak Erik belajar bersama Gladis untuk tugas-tugas mereka yang seharusnya diselesaikan bersama. Berawal dari kebersamaan dan terbiasa menghabiskan waktu bersama, Erik mulai memendam perasaan yang semakin hari terus mewangi layaknya sang mawar yang bermekaran. Erik mecintai Gladis dengan kesederhanaan yang Gladis miliki. Namun saat itu juga Erik merenung, apakah ada hal yang sama dirasakan oleh Gladis padanya. Erik pun tahu Gladis adalah wanita islami yang selalu menjaga ketaatannya pada agama. Sedangkan Erik adalah umat katolik. Namun apalah daya, Erik semakin hari semakin tak tahan memendam rasa cintanya.
            Dalam hening di malam hari, langit yang penuh bintang bersinar. Gladis terpojok dalam suatu sudut ruang di kamarnya. Ia merasakan gejolak di hatinya. Bayang-bayang Erik menari di dalam lamunannya. Ia terdiam cukup lama dan ia menyadari bahwa saat itu dia merasa getaran cinta mulai menguasai dirinya. Gladis sang wanita islami telah jatuh cinta pada Erik penganut agama katolik. Dia resah, gelisah, tak tahu apa yang ada dibenaknya hingga ia bisa jatuh cinta kepada Erik. Rasa takut juga terpancar dari raut wajahnya kala itu. Gladis mencintai Erik tapi perbedaan keyakinanlah yang menjadi penyebab ia tergoncang dan ingin menghilangkan perasaan itu. Hal yang tak pernah Gladis duga, sesuatu yang tak pernah ia pikirkan sedikit pun dan mungkin aneh bila ia rasakan berulang-ulang. Malam semakin larut, dalam hening itu dia hanya bisa berdoa semoga Allah SWT memberikan jalan keluar dari yang ia takutkan.
            Tepat di ruang perpustakaan, Gladis dan Erik fokus mengerjakan tugas masing-masing. Perpustakaan itu sepi karena memang jarang anak-anak kampus berdatangan untuk membaca. Disitulah dua hati yang di mabuk asmara berada, mereka masih diam. Hingga saat Erik dengan ragu menatap Gladis, ia tak menyangka bisa jatuh hati pada perempuan berhijab itu. Erik semakin tak kuasa, hingga ia memberanikan diri untuk memegang tangan Gladis. Gladis yang sedang fokus membaca pun kaget. “ Erik! Apa-apaan kamu. “ sembari menarik tangannya. Erik menatap Gladis dan berkata “ Gladis, aku ingin mengungkapkan sesuatu. Ini sangat penting bagiku.” Mendengar Erik berkata seperti itu, Gladis tak ingin terlihat gugup. Ia pun menjawab “ Aduh dasar Erik. Mau mengungkapkan apa kamu? Jangan dibuat serius Rik. Seperti tak biasa saja kau ingin berbicara padaku. Gladis menjawab dengan tenang, agar semua baik-baik saja. “ Ini memang penting untukku Dis. Setelah cukup lama aku mengenalmu, kebersamaan kita, dan waktu yang kita habiskan untuk belajar bersama membuat hatiku menaruh perasaan cinta padamu. Aku tak mampu memendam semua ini. Aku terlalu rapuh untuk membohongi perasaanku yang sebenarnya padamu Dis. Walaupun aku tahu, kita adalah dua sejoli yang berbeda keyakinan. Tapi salahkah aku memiki rasa yang begitu menyiksa bila ku tahan terlalu lama? Aku mencintaimu Dis dan aku ingin mengikat janji suci denganmu. Kau bisa mengikuti agama keyakinanku dan kita bisa bahagia bersama. “ Gladis tersontak dan tak percaya. Ia hanya bisa terdiam saat itu. Namun sebenarnya, hati ia pun merasakan hal yang sama. Tapi Gladis berpikir ini semua tidak mungkin. Perbedaan keyakinan antara keduanya pasti akan menimbulkan masalah. Gladis pun tak menyangka Erik bisa semudah itu menyuruh untuk mengikuti keyakinannya. Hal itu membuat Gladis sakit hati, dan langsung pergi meninggalkan Erik dengan pelupuh di matanya yang siap menetes.
            Erik merasa gagal atas semua ini, kini Gladis memberi jarak dengan Erik. Gladis memang mencintainya tapi ucapan Erik waktu itu memberi luka di hatinya. Erik merasa hidupnya kini tiada berarti. Hari-hari terasa pahit tanpa kehadiran Gladis disampingnya. Ia kehilangan Gladis si perempuan berhijab itu.
            Saat jam pulang tiba, Erik mengejar Gladis untuk menanyakan jawaban dari apa yang ia ungkapkan. Namun Gladis hanya bisa berucap “ aku membutuhkan waktu untuk semua ini.” Erik hanya bisa meratap dan bingung harus bagaimana. Setelah hari berganti ternyata Gladis tak berangkat kuliah untuk sebulan ini. Dia ke Bogor mengunjungi rumah neneknya. Disana pun ia bisa merasa tenang. Sebulan itu, Erik menjadi luntang-lantung dengan hidup yang tanpa arah dan tujuan. Kejiwaannya terganggu kala itu.
            Saat tiba di rumah kediamannya, Gladis terekejut ketika Ibunya berbicara bahwa Erik kini sudah menjadi gila. Ibu Gladis bertanya “ apakah kamu tahu mengapa Erik bisa menjadi gila seperti itu? “ Gladis hanya tertegun mendengar pertanyaan Ibunya itu. Dia bingung harus mengatakan apa kepada Ibunya. Ibupun kembali bertnya “ hei Gladis. Kau kenapa? Mengapa tiba-tiba menjadi pucat seperti itu? Nampaknya ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan. “ Ibu Gladis mulai mencurigai tingkah anehnya saat itu. Dengan tegas dia akhirnya memberanikan diri untuk jujur kepada Ibunya. Dengan lirih dia berbicara “ Bu. Sebenarnya Gladis ingin mengatakan ini pada Ibu. Erik menjadi seperti itu karena Gladis. Sekarang Gladis menjauhinya Bu. Se..benarnya Erik mencintai Gladis dan Gladis pun sebenarnya mencintai Erik. Namun karena takut, jadi Gladis berniat untuk membiarkan hati ini tenang dulu Bu. “
Ibu menjawab “ apa? Erik mencintaimu dan kau pun sebaliknya? Kamu tahu kan Dis, Erik itu berbeda keyakinan denganmu. Tapi mengapa kau bisa semudah itu mencintainy? Pokoknya Ibu tidak setuju jika kau berhubungan lagi dengan Erik. Lebih baik kau pindah kuliah saja! “
Mendengar hal itu, Gladis hanya bisa diam walaupun sebenarnya dia tertekan karena harus memendam rasa cintanya kepada Erik.
            Hari itu tanggal 15 Mei 2015 dia sempatkan untuk memberi kabar lewat SMS kepada Erik. Sebagai salam perpisahan untukknya. Pesan Gladis itu berisi “ Assalamu’alaikum Erik. Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku hanya ingin menyampaikan bahawa mulai besok aku akan pindah kuliah. Semoga kau tetap baik-baik saja. Lebih baik kau juga melupakan rasa cintamu untukku. Karena itu hanya sia-sia. Selamat tinggal Erik ku harap kau baik-baik saja disana. Wasssalamu’alaikum. Gladis. “
            Meneteslah air mata Erik. Erik kembali tergoncang. Hingga akhirnya dia beranikan diri untuk ke rumah Gladis. Namun saat ia sampai di rumah Gladis, ternyata Gladis sedang tidak berada di rumah. Kata pembantu di rumah Gladis, Gladis sedang berada di Mushola yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Tak segan-segan Erik menemui Gladis. Saat ia sudah berada dipelataran Mushola, dia telah melihat Gladis yang sedang menjalankan solat zuhur di situ. Entah apa yang dipikirkan Erik. Mungkin karena rasa kesalnya hingga ia berani membawa sebuah pisau tajam, dan masuk ke Mushola. Tiba-tiba saat itu juga ia menancapkan pisau itu dari belakang tubuh Gladis, saat Gladis sedang bersujud dalam khusyuk. Gladis terkapar oleh tusukan pisau tajam itu. Hingga akhirnya ia meregang nyawa. Erik tak peduli akan hal itu dan ia melarikan diri dengan apa yang telah ia lakukan. Hingga akhirnya kesalahan Erik terungkap dan ia diberi hukum pidana mati.
            

Categories:

Puisi Untuk Ibu


Doa Untuk Ibu


Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk Ibu
Dia yang selalu mengerti aku
Dia yang tak pernah letih menasehatiku
Dia yang selalu menemani

Dialah Ibu
Orang yang selalu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa di dunia ini
Tanpanya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasing dari Ibu
Kekuatan yang lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku, Ibu
Walaupun engkau selalu memarahiku
Aku tau…
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduli denganku

Ya Allah…
Berilah kesehatan pada ibuku
Panjangkanlah umurnya
Aku ingin membahagiakannya
Sebelum akau atau dia tak ada
Terimakasih Ibu
Atas apa yang kau berikan padaku
Aku kan slalu menyayangimu

Categories:

Senin, 26 Oktober 2015

Puisi Indonesiaku

Doa Untuk Indonesiaku

Indonesiaku
Riuh ramai bergemelegar di sudut kota
Warna putih abu-abu gelapkan awan cerah itu
Entah apa sebab mereka membabi buta
Hingga tetes keringat dan darah mengalir menghujani berkas jalan

Luapan emosi yang kini berkobar di ujung asa
Menambah kepenatan suasana panas di kota
Mungkin karena jerit hati yang tak pernah digubris
Atau keadaan bangsa yang semakin miris
Tapi entahlah apa alasannya
Inilah Indonesiaku

Kini duka telah berselimut kelam
Hanya penyesalan di akhir yang terpancar dalam wajah yang melas
Lebam merah membiru terukir di mata yang membengkak perlahan
Sesal dan hanya sesal yang mereka ratapi
Untuk Indonesiaku

Ingin sekali aku menjerit
Kala hati tak sanggup berucap
Moral bangsa telah hancurkan
Dunia pendidikan pun ternodai
Jiwa pancasila hanya sebagai makna yang teracuhkan
Dari rupa Indonesiaku

Apalah arti Indonesiaku sekarang?
Tercemar dan kotor akibat ulah-ulah yang tak bertanggungjawab
Bangsa ini kian terpuruk
Ibu pertiwi kembali meratap
Layaknya telah jatuh tertimpa tangga
Negeriku tak lagi tersenyum seperti seharusnya

Kau cahaya yang kini hilang
Redup dan tak lagi bersinar
Bangkitlah wahai generasi emas Indonesiaku
Karenamulah negeri bisa kembali bangkit dan kokoh berdiri

Tetap serukan doa untuk masa depan
Bangkitlah !
Indonesia aku percaya padamu
Demi suci kebahagiaan yang menantimu

Categories:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Umum | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑