Sujudku
Diambang Cinta
Keringat bercucuran saat langkah itu
kembali menapak di gerbang sekolah. Dialah Gladis seorang mahasiswa di kota
Bandung. Gladis adalah perempuan berhijab yang dijuluki sebagai si cupu jika ia
sedang di kampus. Dia tak biasa bergaul apalagi untuk memiliki teman. Itu
sangat mustahil baginya. Gladis juga di juluki sebagai kutu buku karena
kegemaran membaca yang ia miliki sejak ia berada di bangku SD hingga sekarang.
Hal itu nampak karena ketebalan kacamata yang ia kenakan terus-menerus menebal.
Namun dialah seorang wanita sederhana yang selalu taat pada agama.
Saat Gladis berjalan menelusuri
lorong kampus menuju letak kelasnya, ia mengalihkan pandangan saat melihat
seorang pria dengan langkah kaki yang tegap dan suara sepatunya pun berderu
rapi sedang berjalan menuju kepadanya. Gladis terus-menerus berucap “istighfar”
karena tindakannya tak sepantasnya dilakukan. Tiba-tiba saja pria itu
menanyakan dimana letak ruang dosen hukum. Gladis hanya mampu menundukan kepala,
diam dan berlari meninggalkan pria itu. Hal itu dia lakukan karena memang
Gladis tak terbiasa untuk berkomunikasi dengan lawan jenis. Sikapnya yang
dingin itu yang membuat pria itu berkata “ dasar perempuan aneh.”
Bel masuk telah berseru merdu. Deringnya
bergema di setiap sudut kelas. Tanda kegiatan belajar mengajar segera dimulai.
Semua siswa-siswi telah masuk ke kelas masing-masing. Namun tinggalah pria yang
berjumpa dengan Gladis tadi yang baru saja menemukan ruang guru dan segera ia
menanyakan kepada guru dimana letak kelasnya. Beruntunglah pria itu bertanya
langsung kepada wali kelas di kelas barunya nanti. Sehingga dosen itu yang
sering disapa dengan Ibu Mirna paham tentang pria pindahan itu. Takut terlalu
lama berbincang, Bu Mirna menemani anak pindahan itu menuju kelas barunya.
Heninglah suasana kelas fakultas
hukum saat Bu Mirna datang membuka pintu kelas. Bu Mirna masuk dan mengumumkan
bahwa kelas itu akan memiliki teman baru. Semua anak di kelas itu terkejut dan
penasaran mendengar berita itu. Segeralah Bu Mirna memanggil anak baru di kelas
itu. Saat anak baru itu memasuki kelas dan tersenyum kepada teman barunya,
seolah semua membisu dan tak ada suara. Mereka terpesona pada paras pria yang
bernama Erik itu, namun hanya Gladislah yang tak menanggapi itu karena sedang
sibuk membaca materi pelajaran untuk hari ini. Hingga akhirnya Bu Mirna
menyuruh Erik untuk duduk bersebelahan dengan Gladis. Karena memang hanya
Gladislah seorang siswa yang duduk sendirian. Saat Erik duduk berdampingan
dengan Gladis, Gladis pun kaget. Ia tak percaya pria yang ia temui di lorong kampus
dan menanyakan ruang guru akan sampai di kelasnya dan bisa duduk bersama dalam
satu meja. Hal yang tak pernah diduga sebelumnya.
Waktu berjalan sudah cukup lama,
persahabatan dimulai semenjak Erik belajar bersama Gladis untuk tugas-tugas
mereka yang seharusnya diselesaikan bersama. Berawal dari kebersamaan dan
terbiasa menghabiskan waktu bersama, Erik mulai memendam perasaan yang semakin
hari terus mewangi layaknya sang mawar yang bermekaran. Erik mecintai Gladis
dengan kesederhanaan yang Gladis miliki. Namun saat itu juga Erik merenung,
apakah ada hal yang sama dirasakan oleh Gladis padanya. Erik pun tahu Gladis
adalah wanita islami yang selalu menjaga ketaatannya pada agama. Sedangkan Erik
adalah umat katolik. Namun apalah daya, Erik semakin hari semakin tak tahan
memendam rasa cintanya.
Dalam hening di malam hari, langit
yang penuh bintang bersinar. Gladis terpojok dalam suatu sudut ruang di
kamarnya. Ia merasakan gejolak di hatinya. Bayang-bayang Erik menari di dalam
lamunannya. Ia terdiam cukup lama dan ia menyadari bahwa saat itu dia merasa
getaran cinta mulai menguasai dirinya. Gladis sang wanita islami telah jatuh
cinta pada Erik penganut agama katolik. Dia resah, gelisah, tak tahu apa yang
ada dibenaknya hingga ia bisa jatuh cinta kepada Erik. Rasa takut juga
terpancar dari raut wajahnya kala itu. Gladis mencintai Erik tapi perbedaan
keyakinanlah yang menjadi penyebab ia tergoncang dan ingin menghilangkan
perasaan itu. Hal yang tak pernah Gladis duga, sesuatu yang tak pernah ia
pikirkan sedikit pun dan mungkin aneh bila ia rasakan berulang-ulang. Malam
semakin larut, dalam hening itu dia hanya bisa berdoa semoga Allah SWT
memberikan jalan keluar dari yang ia takutkan.
Tepat di ruang perpustakaan, Gladis
dan Erik fokus mengerjakan tugas masing-masing. Perpustakaan itu sepi karena
memang jarang anak-anak kampus berdatangan untuk membaca. Disitulah dua hati
yang di mabuk asmara berada, mereka masih diam. Hingga saat Erik dengan ragu
menatap Gladis, ia tak menyangka bisa jatuh hati pada perempuan berhijab itu.
Erik semakin tak kuasa, hingga ia memberanikan diri untuk memegang tangan
Gladis. Gladis yang sedang fokus membaca pun kaget. “ Erik! Apa-apaan kamu. “
sembari menarik tangannya. Erik menatap Gladis dan berkata “ Gladis, aku ingin
mengungkapkan sesuatu. Ini sangat penting bagiku.” Mendengar Erik berkata seperti
itu, Gladis tak ingin terlihat gugup. Ia pun menjawab “ Aduh dasar Erik. Mau
mengungkapkan apa kamu? Jangan dibuat serius Rik. Seperti tak biasa saja kau
ingin berbicara padaku. Gladis menjawab dengan tenang, agar semua baik-baik
saja. “ Ini memang penting untukku Dis. Setelah cukup lama aku mengenalmu,
kebersamaan kita, dan waktu yang kita habiskan untuk belajar bersama membuat
hatiku menaruh perasaan cinta padamu. Aku tak mampu memendam semua ini. Aku
terlalu rapuh untuk membohongi perasaanku yang sebenarnya padamu Dis. Walaupun
aku tahu, kita adalah dua sejoli yang berbeda keyakinan. Tapi salahkah aku
memiki rasa yang begitu menyiksa bila ku tahan terlalu lama? Aku mencintaimu
Dis dan aku ingin mengikat janji suci denganmu. Kau bisa mengikuti agama keyakinanku
dan kita bisa bahagia bersama. “ Gladis tersontak dan tak percaya. Ia hanya
bisa terdiam saat itu. Namun sebenarnya, hati ia pun merasakan hal yang sama.
Tapi Gladis berpikir ini semua tidak mungkin. Perbedaan keyakinan antara
keduanya pasti akan menimbulkan masalah. Gladis pun tak menyangka Erik bisa
semudah itu menyuruh untuk mengikuti keyakinannya. Hal itu membuat Gladis sakit
hati, dan langsung pergi meninggalkan Erik dengan pelupuh di matanya yang siap
menetes.
Erik merasa gagal atas semua ini,
kini Gladis memberi jarak dengan Erik. Gladis memang mencintainya tapi ucapan
Erik waktu itu memberi luka di hatinya. Erik merasa hidupnya kini tiada
berarti. Hari-hari terasa pahit tanpa kehadiran Gladis disampingnya. Ia
kehilangan Gladis si perempuan berhijab itu.
Saat jam pulang tiba, Erik mengejar
Gladis untuk menanyakan jawaban dari apa yang ia ungkapkan. Namun Gladis hanya
bisa berucap “ aku membutuhkan waktu untuk semua ini.” Erik hanya bisa meratap
dan bingung harus bagaimana. Setelah hari berganti ternyata Gladis tak
berangkat kuliah untuk sebulan ini. Dia ke Bogor mengunjungi rumah neneknya.
Disana pun ia bisa merasa tenang. Sebulan itu, Erik menjadi luntang-lantung
dengan hidup yang tanpa arah dan tujuan. Kejiwaannya terganggu kala itu.
Saat tiba di rumah kediamannya,
Gladis terekejut ketika Ibunya berbicara bahwa Erik kini sudah menjadi gila.
Ibu Gladis bertanya “ apakah kamu tahu mengapa Erik bisa menjadi gila seperti
itu? “ Gladis hanya tertegun mendengar pertanyaan Ibunya itu. Dia bingung harus
mengatakan apa kepada Ibunya. Ibupun kembali bertnya “ hei Gladis. Kau kenapa?
Mengapa tiba-tiba menjadi pucat seperti itu? Nampaknya ada sesuatu yang sedang
kau sembunyikan. “ Ibu Gladis mulai mencurigai tingkah anehnya saat itu. Dengan
tegas dia akhirnya memberanikan diri untuk jujur kepada Ibunya. Dengan lirih
dia berbicara “ Bu. Sebenarnya Gladis ingin mengatakan ini pada Ibu. Erik
menjadi seperti itu karena Gladis. Sekarang Gladis menjauhinya Bu. Se..benarnya
Erik mencintai Gladis dan Gladis pun sebenarnya mencintai Erik. Namun karena
takut, jadi Gladis berniat untuk membiarkan hati ini tenang dulu Bu. “
Ibu
menjawab “ apa? Erik mencintaimu dan kau pun sebaliknya? Kamu tahu kan Dis,
Erik itu berbeda keyakinan denganmu. Tapi mengapa kau bisa semudah itu
mencintainy? Pokoknya Ibu tidak setuju jika kau berhubungan lagi dengan Erik.
Lebih baik kau pindah kuliah saja! “
Mendengar
hal itu, Gladis hanya bisa diam walaupun sebenarnya dia tertekan karena harus
memendam rasa cintanya kepada Erik.
Hari itu tanggal 15 Mei 2015 dia
sempatkan untuk memberi kabar lewat SMS kepada Erik. Sebagai salam perpisahan
untukknya. Pesan Gladis itu berisi “ Assalamu’alaikum Erik. Apa kabar? Semoga
kau baik-baik saja. Aku hanya ingin menyampaikan bahawa mulai besok aku akan
pindah kuliah. Semoga kau tetap baik-baik saja. Lebih baik kau juga melupakan
rasa cintamu untukku. Karena itu hanya sia-sia. Selamat tinggal Erik ku harap
kau baik-baik saja disana. Wasssalamu’alaikum. Gladis. “
Meneteslah air mata Erik. Erik
kembali tergoncang. Hingga akhirnya dia beranikan diri untuk ke rumah Gladis.
Namun saat ia sampai di rumah Gladis, ternyata Gladis sedang tidak berada di
rumah. Kata pembantu di rumah Gladis, Gladis sedang berada di Mushola yang
jaraknya lumayan jauh dari rumah. Tak segan-segan Erik menemui Gladis. Saat ia
sudah berada dipelataran Mushola, dia telah melihat Gladis yang sedang
menjalankan solat zuhur di situ. Entah apa yang dipikirkan Erik. Mungkin karena
rasa kesalnya hingga ia berani membawa sebuah pisau tajam, dan masuk ke
Mushola. Tiba-tiba saat itu juga ia menancapkan pisau itu dari belakang tubuh
Gladis, saat Gladis sedang bersujud dalam khusyuk. Gladis terkapar oleh tusukan
pisau tajam itu. Hingga akhirnya ia meregang nyawa. Erik tak peduli akan hal
itu dan ia melarikan diri dengan apa yang telah ia lakukan. Hingga akhirnya
kesalahan Erik terungkap dan ia diberi hukum pidana mati.
Wkwk ceritanya itu loh :v
BalasHapusselamat membaca :-)
BalasHapus