Ketika seseorang sedang menjalani program penurunan berat badan, junk food bisa menyebabkan gendut atau menambah bobot. Namun, sebuah studi menyebutkan orang-orang tidak harus menghindari junk food atau soda untuk menurunkan berat badan.
Para peneliti ingin mengetahui apakah orang dewasa di Amerika Serikat yang memiliki berat badan lebih besar mengonsumsi junk food, manisan dan soda lebih sering. Mereka menggunakan data dari Centers for Disease Control and Prevention di tahun 2007 dan 2008 yang meneliti 5.000 orang Amerika yang diminta untuk mengingat-ingat apa yang sudah mereka makan selama dua hari yang berbeda.
Dikutip dari CNN, Kamis (19/11/2015), ternyata tidak ada perbedaan antara orang Amerika yang memiliki berat badan normal dengan yang kegemukan. Di sini, orang yang kegemukan notabene mengonsumsi kentang goreng, soda tinggi kalori dan juga makanan penutup.
Tapi, peneliti mengingatkan bahwa apapun yang dikonsumsi berlebihan pastinya tidak baik bagi tubuh. Sehingga, mereka menekankan bahwa sekali-sekali mengonsumsi junk foood sah-sah saja.
"Ini adalah sebuah kejutan, saya pikir akan ada hubungan antara berat badan orang dan seberapa sering mereka mengonsumsi junk food," ungkap David Just, seorang profesor ekonomi terapan dan manajemen di Cornell University.
Just juga menjelaskan bahwa penelitian ini tidak seharusnya digunakan seseorang untuk akhirnya mengonsumsi semua kentang goreng, soda dan makanan manis lainnya yang mereka inginkan. Sebab, berlebihan mengonsumsi makanan tersebut terkait dengan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Konsumsi junk food berlebih pastinya juga berkontribusi pada kenaikan bobot.
Dalam laporannya, peneliti menyebut ada kemungkinan bahwa ukuran porsi sangat berhubungan dengan berat badan. Namun, mereka tidak menyelidiki apakah olahraga bisa mengimbangi kenaikan berat badan yang disebabkan oleh junk food.
"Mengurangi total kalori yang kita konsumsi dan mengatur frekuensi ngemil mungkin menjadi saran untuk diet yang lebih baik. Jika Anda bukan tipikal orang yang aktif dan senang bergerak, maka konsumsi junk food dua sampai tiga kali seminggu mungkin akan menjadi masalah. Begitu juga sebaliknya," kata Just.

0 komentar:
Posting Komentar